Minggu, 12 Juni 2011

Atap Rumah : Bahaya Asbes

Ini bagian tersulit nih dari project Renovasi ke-5 (R-5) ini.

Memang dari awal udah keliatan bakal agak alot, soalnya saat si Tukang nurunin genteng dari bangunan lama, ia udah pesen dan sering-sering diulang, kalau bisa gentengnya jangan dipake lagi soalnya lembek banget, dll ... bahkan dia bilang, itu mah genteng kandang ayam, ganti aja ma yang baru kan ada juga yang murah ......... alasannya.
Tapi sebaliknya, kita selalu bilang genteng itu mau dipakai lagi toh masih bisa dipakai. Kalau masih bisa memanfaatkan yang ada kenapa harus beli yang baru ? Toh kalaupun beli baru, dengan harga murah apalagi, kemungkinan kwalitasnya gak sebanding ma genteng lama ini. Paling cuma harus cari tambahannya karena jumlahnya pasti kurang. So aku melakukan window shopping sepanjang jalan dari Maruyung - Cinere. Melihat-lihat dan memperhatikan ke setiap tempat yang depannya ada tumpukan genteng, entah itu toko bangunan or toko barang bekas bangunan, sambil duduk di angkot di setiap perjalanan ke kantor. Hasilnya ada 2 tempat yang kayaknya punya genteng setipe. Tinggal didatengin deh kalau sudah tahu berapa jumlah kekurangannya.

Saat tiba waktu persiapan pembelian material, berikut item2 yang disebut tukang untuk pemasangan atap ukuran 3m x 8m dan info harga dari toko material langganan sbb :
Kayu 6/12 = 5 btg x Rp. 115.000 = Rp. 575.000
Kayu 5/7 = 20 btg x Rp. 50.000 = Rp. 1.000.000
Kayu Reng 2/3 = 2 Ikat x Rp. 10.000 = Rp. 20.000
Untuk Plafon :
Triplek = 10 lbr x Rp. 37.000 = Rp. 378.000
Cat Putih 5kg = 2 Kaleng x Rp. 72.000 = Rp. 144.000
Total = Rp. 2.117.000.-
Weleh ... weleh .... kok gede banget hasilnya ya. Kalo lihat material yang dibeli sebagian besar kayu yang notabene bakal dimakan rayap penghuni rumah ini, kok aku jadi berfikir ulang. Belum lagi biaya tukangnya .... omg

Lalu fokus beralih ke rangka baja ringan yang sebelumnya pernah juga aku googling dan mendatangi penyedia dan pemasangnya yang kantornya di Jalan Raya Sawangan (satu-satunya yang aku tahu didekat rumah), waktu itu kalau gak salah, ditawari harga Rp. 140.000 per m2 dengan ketebalan 0.8 mm dan jenis Zincallum. Lalu aku telp, minta untuk di survey untuk mendapatkan harga penawaran sambil aku terus mencari informasi seputar atap dan atap baja ringan.
Harga yang ditawarkan sbb :
Perkiraan luas atap : 30 m2 x Rp. 140.000 = Rp. 4.200.000
Wah kok 2 kali lipat yah ? padahal tadinya aku pikir cuma sekitar 20an m2 ... tapi katanya luas atap harus lebih dari bangunan dan 30m2 itu nanti bisa dihitung lagi saat material sudah terpasang, jadi tidak fix.
Tapiiii .. kok jadi ragu lagi. Jumlah sebesar itu masih belum biaya genteng dan plafond.
Belum lagi keraguanku sama perusahaan pemasangannya karena menurut yang aku baca, pemasangan atap baja ringan itu harus hati-hati, tenaga pemasangnya harus punya certificate dan perlu software khusus untuk design pemasangannya. Nah perusahaan ini, kayaknya gak punya 2 hal itu :(
Mohon pencerahan dong tentang atap baja ringan ini apa yang mesti diperhatikan kalau kita mau memasangnya. Dan pls kalau ada info perusahaan yang bisa direkomended. Teng kyu.

Dua jalan alternatif sepertinya belum bisa diputuskan. Sebagai referensi, aku liatin atap rumah dan bangunan sepanjang jalan Maruyung - Pondok Labu (masih sambil duduk di angkot saat berangkat kantor :)). Hasilnya, nemu ide pakai cor ... trus sms-an sama Ibu, minta pendapat sebelum ngomong ke Tukang. Eh, karena miss-understanding di sms, si Ibu langsung nanya ke tukang, dan hasilnya kalau besi atap cuma dirajut seperti tiker untuk mengurangi cost ngecor, si Tukang gak berani. Kalau di cor normal, yah pasti jatuhnya lebih mahal dari keduanya dong ya ....

Pusing deh ... sampe pasang status di facebook, "belum nemu jalan keluar ... " selama beberapa hari.

Trus saat Sabtu (hari saat bisa ketemu tukang), ngobrol sama Bapak dan Pipi, saran Bapak, pakai asbes aja dulu .... kayu yang diperlukan pasti jauh berkurang. Walau sebenarnya dari awal aku ingin menghindari pakai asbes karena kan gak sehat. Tapi setelah nanya ke tukang apa aja yang diperluin kalau pakai asbes sbb :
Asbes = 8 lbr x Rp. 59.000 = Rp. 472.000
Kayu 5/10 = 6 btg x Rp. 80.000 (Meranti Banjar) = Rp. 480.000
GRC Board = 7 lbr x Rp. 43.000 = Rp. 301.000
Total = Rp. 1.253.000.-
Wuih ... jauh banget selisihnya. Coba lihat cost pakai genteng di atas ... Pantas aja orang masih tetap pakai asbes walau dibilang kurang baik untuk kesehatan.

Jadi pilih yang mana nih ? masih bingung juga ...
Murah kalo bikin sakit, jatuhnya jadi mahal dong ya ...
Trus nemu di diskusi tentang asbes di Forum Idea Online sbb :
Awas Atap Asbes Berbahaya...
Bahan bangunan yang paling rentan dan mudah menimbulkan kejadian penyakit adalah atap dan cat! Tanya, kenapa...?
Semua orang sepertinya saat ini sudah menjadi lebih mengetahui bahwa atap rumah yang terbuat dari bahan asbes merupakan bahan bangunan yang dapat menimbulkan penyakit. Aku yakin 100% tidak akan memilih bahan bangunan ini untuk rumahku.
Pada beberapa orang yang pernah kuajak berdiskusi tentang hal ini, tentu saja mereka bukanlah dari kalangan orang kesehatan, alasan yang mereka utarakan karena bahan atap asbes mempunyai banyak keuntungan, diantaranya :
Bahannya ringan, tidak mudah rusak atau jebol, rumah menjadi lebih terasa sejuk karena sifat asbes yang tidak menyerap panas (dari matahari) dan tentunya juga harganya yang cenderung lebih murah dibandingkan bahan bangunan yang lain serta hampir semua toko bahan bangunan menjualnya (mudah didapatkan).
Oke...keunggulan asbes rasanya sulit ditandingi oleh bahan bangunan atap lainnya, semisal zincalume, aluminium, seng ataupun genteng beton.
Lantas bagaimana dengan efek samping pemakaiannya...? Lho, memangmya ada, seperti obat saja...?
Asbes dalam jangka pendek tak kan terlihat secara nyata / signifikan efek samping terhadap kesehatan kepada penghuni rumah. Efek jangka panjangnya...? Ada!!!
Pernah dengar ASBESTOSIS? Aku tak kan menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Karena memang dari sudut pandangku, justru dari sikap kita sebagai konsumen lah yang lebih penting, karena kita memakainya untuk bahan bangunan sebuah rumah! Baiti Jannati...
Asbestosis merupakan penyakit yang berbahaya. Menyerang paru-paru manusia.Bahkan dapat mengakibatkan kematian!
Proses kejadian itu berlangsung karena penghuni rumah yang bahan bangunan atapnya terbuat dari asbes akan selalu menghirup dan menelan partikel-partikel kecil yang tak terlihat oleh kasat mata yang berasal dari bahan asbes itu. Lho, atap asbes kan padat ? Terlihat padat. Karena proses penguapan, panas, dingin, hujan dan perubahan lainnya yang tak disadari pada atap asbes itulah yang menguraikan partikel padat asbes itu terurai menjadi partikel yang jauh lebih kecil seperti debu. Dan itu akan terikut terhirup saat penghuni rumah bernafas. Dan akhirnya menumpuk di bagian paru-paru kita.
Terbayangkan kan, bertahun-tahun hal semacam itu terjadi tanpa ada upaya untuk memberikan perlindungan khusus untuk paru-paru kita? Misalnya, masak sih kalau datang hujan, kita di dalam rumah kudu pake masker?

Serem juga ya ?
Akhirnya kuputuskan aja ke rencana awal pakai genteng dan kayu. Walau ada resiko rayap, tapi mudah2an dengan bantuan ter (cairan hitam tapi bukan cat seperti oli) dan Agenda anti rayap dari Bayer bisa bermanfaat. Doain ya.

5 comments:

ucup said...
ada atap bitumen gelombang onduline, environment friendly, ringan banget 3.2 kg/m2..cek di ondulineindonesia.com
Advanture Korea said...
Didalam memilih atap sering kali kita dihadapkan pada pilihan sulit, seperti kondisi kantong, kenyamanan, kesehatan, keindahan, kekuatan bangunan dll. Namun yang jelas semua jenis atap memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Saat ini saya juga sedang membangun rumah, dan saya perlu waktu 1 minggu untuk memutuskan jenis atap yang harus digunakan. Dan setelah mempertimbangkan semua hal diatas dan disesuaikan dengan kondisi kantong, saya akhirnya memutuskan untuk memakai genteng asbes. Memang asbes memiliki kelemahan dapat menyebabkan penyakit (menyerang paru-paru), karena zat kimia dan sifatnya yang lama kelamaan (>10-20 tahun)akan rapuh dan menghasilkan partikel-partikel kecil yang bisa jadi terhirup. Namun ini bisa kita minimalisir dengan cara membuat plafon yang rapat, jarak atap dengan plafon diperlebar, memasang aluminium foil, membuat lobang angin, atau mengecat asbes. Saya kira cara tersebut akan cukup membantu mengurangi efek atap asbes yang digambarkan cukup mengerikan. Mudah-mudahan pandangan ini bisa membantu.
Advanture Korea said...
Didalam memilih atap sering kali kita dihadapkan pada pilihan sulit, seperti kondisi kantong, kenyamanan, kesehatan, keindahan, kekuatan bangunan dll. Namun yang jelas semua jenis atap memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Saat ini saya juga sedang membangun rumah, dan saya perlu waktu 1 minggu untuk memutuskan jenis atap yang harus digunakan. Dan setelah mempertimbangkan semua hal diatas dan disesuaikan dengan kondisi kantong, saya akhirnya memutuskan untuk memakai genteng asbes. Memang asbes memiliki kelemahan dapat menyebabkan penyakit (menyerang paru-paru), karena zat kimia dan sifatnya yang lama kelamaan (>10-20 tahun)akan rapuh dan menghasilkan partikel-partikel kecil yang bisa jadi terhirup. Namun ini bisa kita minimalisir dengan cara membuat plafon yang rapat, jarak atap dengan plafon diperlebar, memasang aluminium foil, membuat lobang angin, atau mengecat asbes. Saya kira cara tersebut akan cukup membantu mengurangi efek atap asbes yang digambarkan cukup mengerikan. Mudah-mudahan pandangan ini bisa membantu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar